LUPUS: Ibarat Menggunting Dalam Lipatan

by: Verena Puspawardani
Diterbitkan di herworld Indonesia, September 2002

Lupus disini bukanlah judul sebuah sinetron yang banyak ditonton ABG, melainkan suatu penyakit yang pada sebagian besar kasusnya menyerang perempuan. Kerjanya pun seperti musuh dalam selimut. Mau tahu lebih banyak soal itu?

Muninggar, asal Klaten bertanya pada dr. Zubairi Djoerban SpPD KHOM dari bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia-Rumah sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), “Saya seorang gadis 18 tahun. Sejak dua bulan terakhir ini mengalami kerontokan rambut. Selain itu, badan saya juga sering demam dan pegal linu diseluruh buku-buku jari tangan serta siku sebelah kanan dan kiri.
Belum lagi sariawan yang tidak sembuh tuntas walau sudah diperiksakan ke dokter. Apakah ini gejala LUPUS? Saya takut sekali karena salah seorang tetangga belum lama ini meninggal dunia. Kabarnya akibat LUPUS yang menyerang ginjal. Apa sih sebenarnya LUPUS itu? Apakah ada obatnya? Apakah bisa
disembuhkan? Apakah nantinya saya bisa hamil dan mempunyai anak?”

Sang dokter menjawab bahwa gejala yang dialami memang bisa disebabkan oleh penyakit LUPUS. Namun, munculnya sariawan juga bisa karena terlalu sering minum antibiotika atau kortikosteroid. Sedangkan panas berkepanjangan dan pegal linu disebabkan oleh demam rematik, TBC paru, maupun penyakit infeksi virus. Jadi ternyata, tidak selalu pertanda bahwa yang dialami Muninggar adalah penyakit LUPUS.

Kasus serupa terjadi pada Ratna Megawati (32), selama 3 tahun ini merasakan sakit luar biasa pada tenggorokannya. Puncak rasa sakit dialaminya tahun 1996, hingga tak bisa berbicara. Oleh dokter umum yang merawatnya, Ratna disarankan menjalani operasi amandel (tonsil). Sebelum menjalani operasi, sebagian darahnya diambil untuk pemeriksaan, tetapi darahnya tidak bisa membeku. Pemeriksaan diulang hingga tiga kali. Hasilnya tetap sama.

Ratna kemudian disarankan untuk berobat ke spesialis penyakit dalam. Diketahui kemudian bahwa ia menderita LUPUS. Mendengar nama yang asing ini Ratna mencari rekomendasi dari dokter lain. Barulah ia memahami penyakit yang dideritanya dan bersedia mengkonsumsi banyak tablet demi kesembuhan. Setelah tiga bulan, kondisinya semakin buruk. Kakinya tidak bisa menapak tangga dan giginya keropos. Apalagi diketahui kemudian bahwa ia hamil. Karena ada kemungkinan cacat, dokter menyarankan agar digugurkan saja.

Berbeda dengan dokter yang selama ini merawatnya, dokter tersebut justru mengatakan bahwa kehamilan tidak menjadi masalah asal diawasi dengan cermat. “Tadinya saya cemas, tapi ternyata anak
saya lahir dengan sehat,” ujar Ratna yang merasa kondisi tubuhnya sekarang sudah lebih baik.

Banyak orang tidak mengetahui penyakit LUPUS atau yang memiliki nama asli Systemic Lupus Erythematosus, disingkat SLE. Tentunya orang akan bertanya; berbahayakah penyakit ini, apa saja faktor resikonya, dsb. Tanggapan seperti Muninggar wajar terjadi dan perlu dijawab dengan benar. Seseorang yang menderita penyakit LUPUS akan berharap banyak, terutama dari segi pengobatan.

Apa itu LUPUS?
LUPUS adalah penyakit otoimun. Menurut dr. Zubairi, LUPUS merupakan penyakit peradangan menahun yang menyerang berbagai bagian tubuh, terutama kulit, sendi, darah, dan ginjal. “Sistem kekebalan tubuh membentuk protein yang disebut antibodi untuk melindungi tubuh terhadap virus, bakteri, dan benda asing lainnya. Pada gangguan ini, sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan benda asing (antigen) dengan sel dan jaringan tubuh sendiri. Antibodi kemudian
menyerang tubuh, menyebabkan peradangan, perlukaan jaringan, serta nyeri,” urainya.

Tambahnya lagi, di Amerika Serikat terjadi lebih dari 16.000 kasus baru per tahun. Diperkirakan sekitar 500 ribu sampai 1,5 juta penduduk AS menderita LUPUS. Di Indonesia belum ada data yang pasti. Saat ini anggota Yayasan Lupus Indonesia mencatat sekitar 500 orang. Jumlah ini belum mencakup seluruh penderita LUPUS di Jakarta, apalagi di luar Jakarta.

Bentuk yang paling ringan adalah LUPUS diskoid yang menyerang kulit. Kelainan ini menyebabkan kulit memiliki ruam-ruam merah yang terkadang menonjol dan bertukak. Gambaran ini mirip dengan bekas gigitan atau cakaran serigala sebagai asal muasal nama LUPUS.

Sesuai dengan namanya, SLE merupakan bentuk manifestasi menyeluruh, beragam, dan dapat mengenai berbagai sistem organ. Tak jarang gejalanya jelas terlihat, tetapi lebih banyak lagi yang tersembunyi. Keadaan penyakit kronik ini seringkali menampakkan gejala terpisah satu sama lain dengan jeda waktu yang cukup panjang hingga beberapa tahun lamanya.

Sesungguhnya penyakit SLE tidak menular, tidak bersifat seperti kanker, dan menimbulkan kecacatan yang berat. Perlu diingat bahwa dengan mengatasi radang yang diakibatkannya, kelainan sistem organ dapat dikembalikan tanpa kerusakan yang menetap.

Siapa saja yang dapat terserang LUPUS?
Baik laki-laki dan perempuan dapat terkena penyakit ini. Namun, sebagian besar kasus perempuan di
usia produktif lah yang terbanyak menjadi odapus. Rasio resiko terkenanya pada perempuan adalah sembilan kali lebih besar daripada laki-laki. Jarang dijumpai SLE pada anak dibawah usia 12 tahun atau perempuan diatas usia 45 tahun.

Tambahan informasi lagi, setiap bangsa di dunia dapat terkena penyakit SLE, tetapi kekerapan penyakit ini lebih tinggi didapati di daerah Hindia Barat dan Asia Tenggara. Pada umumnya ada faktor yang diturunkan (genetik) yang berperan untuk terjadinya penyakit, walaupun SLE bukan penyakit keturunan.

Lalu, bagaimana mengenali gejalanya?
SLE memberikan gejala yang beragam dan kadangkala menyerupai penyakit lain (mimikri). Diagnosis SLE
seringkali baru diketahui berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian setelah gejala awal muncul. Tetapi kemudian muncul tiba-tiba (akut), menahun (kronik), atau tidak bergejala seolah berjalan di bawah tanah serta muncul ke permukaan secara mengejutkan.

Gejala umum
Kelelahan, demam yang bukan disebabkan oleh infeksi, sakit kepala, atau nyeri-nyeri otot
biasa, nafsu makan berkurang, dan penurunan berat badan.

Rambut dan kulit
Diskoid menyerang kulit terutama daerah muka dan kulit kepala. Terlihat sebagai ruam dan tak jarang menyebabkan parut. Kemerahan atau ruam pada kulit muka yang menampakkan gambaran seperti kupu-kupu (butterfly rush). Seringkali terjadi kerontokan rambut atau sampai kebotakan.

Persendian
Hampir semua pernah mengeluh pegal linu atau bahkan keradangan (artritis) pada sendi-sendi atau urat (tendon). Semua sendi pada prinsipnya dapat terkena.

Fenomena Raynauds
Pada ujung-ujung jari apabila terkena udara, air dingin, akan menyebabkan pengerutan pembuluh darah, dan mengakibatkan pucat kebiruan, serta dingin. Gejala ini kerap disebut fenomena Raynauds.

Darah
Seringkali pasien merasa cepat lelah yang berkaitan dengan berkurangnya kadar Haemoglobine
(Hb) atau kurangnya sel dasah alias anemis. Selain itu, sel-sel darah putih (leukopenia) dan keping-keping darah (trombosit) juga dapat menurun.

Jantung, paru, dan pembuluh darah
Apabila terjadi pengumpulan cairan pada selaput jantung (efusi perkardial) atau paru (efusi paru), maka odapus akan merasa sesak nafas apabila berjalan agak jauh. Keradangan pada pembuluh darah (vaskulitis) dapat menyebabkan berbagai akibat tergantung dimana lokasi terjadinya kelainan tersebut.

Ginjal
Kelainan pada ginjal terjadi 10-50% kasus. Harus diperhatikan dengan seksama bahwa ginjal merupakan organ yang kurang mampu memperbaiki kerusakan yang terjadi. Biasanya ditandai dengan keluarnya protein dalam iar seni (proteinuri) atau dapat berupa bengkak pada kedua kaki apabila fungsi ginjal telah terganggu.

Sistem saraf dan kejiwaan
Kelainan saraf memberikan gejala yang beragam. Dapat berupa gangguan gerak atau raba, keluhan kejang, atau penurunan kesadaran. Odapus juga sering terlihat dalam keadaan tertekan (depresi) dan cemas. Kelainan ini sulit dibedakan dengan efek samping pengobatan. Melihat beragamnya organ tubuh yang terkana maka SLE perlu ditangai dengan seksama, sedini mungkin, dan membutuhkan kerja sama antara dokter dan pasien yang baik. “Jika tidak segera diketahui dan mendapat pengobatan sesuai, penderita LUPUS bisa terancam jiwanya,” tutur dr. Zubairi.

Bagaimana LUPUS didiagnosis?
Satu hal yang perlu diingat adalah sifat penyakit SLE yang dapat meyerupai penyakit lain, sehingga terkadang pasien datang ke dokter umum atau ahli yang beragam. Keluhan ginjal membawa pasien datang ke seorang ahli ginjal, keluhan anemia akan membawa pasien ke ahli hematologi, dsb.

Apabila gejala yang timbul tidak khas, maka terjadi kesulitan untuk mendiagnosis SLE secara dini. Namun demikian, apabila ada kecurigaan terhadap penyakit ini, maka beberapa gejala SLE perlu ditanyakan lebih lanjut. Misalnya dengan pemeriksaan laboratorium tertentu terkait dengan kadar Hb, sel darah
putih, keping darah, protein dalam air seni, antibodi terhadap inti sel, dsb.

Apa penyebab LUPUS?
Penyakit ini belum diketahui penyebabnya dengan pasti. Berbagai penelitian yang ada menyebutkan keterlibatan faktor genetik, hormon, infeksi termasuk virus dan obat-obatan tertentu yang mengandung antibiotika jenis sulfa dan penisilin. Biasanya kombinasi dari faktor tersebut sampai saat ini dipercaya
sebagai penanggung jawab terjadinya SLE. Sinar ultraviolet juga dapat memperberat atau mencetuskan serangan LUPUS. Infeksi berkepanjangan juga diduga bisa menimbulkan LUPUS.

Bagaimana LUPUS diobati?
Menurut dr. Yoga I. Kashmir SpPD KR yang juga dari FKUI-RSCM, bersama dengan dr Zubairi, mengatakan bahwa pengobatan penyakit LUPUS dilakukan antara lain melalui:

1. Obat anti inflamasi non-steroidal (OAINS)
Tujuannya mengatasi peradangan sendi atau mengurangi nyeri. Perlu diingat bahwa obat ini
memberikan efek samping pada lambung, yaitu perih di ulu hati, rasa panas, atau
pendarahan pada lambung. Oleh karena itu disarankan meminum obat ini setelah
makan atau menggunakan obat pelindung lambung, seperti penghambat pompa proton
ion. Mintalah petunjuk dokter Anda untuk hal ini.

2. Antimalaria
Mungkin agak sedikit terdengar aneh karena obat malaria dapat dipakai mengobati LUPUS
Diskoid serta kelainan sendi lainnya. Obat ini mampu menahan ultraviolet
matahari. Efek samping juga ditemukan. Biasanya berupa keluhan saluran
pencernaan, seperti mual dan muntah. Timbunan pada retina mata juga dapat
mengganggu ketajaman penglihatan sehingga diperlukan kontrol mata secara
teratur.

3. Kortikosteroid
Obat ini paling banyak dipakai untuk mengatasi peradangan dan menekan proses imun
yang berperan pada LUPUS. Efeknya dapat terlihat sangat dramatis dalam beberapa
jam. Pemberian dalam jangka panjang dan dosis besar memerlukan pengawasan ketat
karena efek samping yang sejalan dengan keampuhannya, seperti peningkatan berat
badan, kekeruhan lensa mata, tulang keropos (osteoporosis), penipisan kulit,
diabetes, hipertensi, dsb. Penghentian obat ini secara tiba-tiba akan
mencetuskan serangan yang lebih hebat lagi sehingga setiap odapus harus
mengkonsultasikannya pada dokter yang merawat. Perlu dipikirkan penambahan obat
lain agar efek sampingnya tidak berat.

4. Anti penekan sistem imun (imunosupresan)
Dipakai untuk mengurangi respon peradangan pada sel-sel yang bertanggung jawab pada proses imunitas. Sayangnya obat ini juga menekan sel normal yang sedang membelah termasuk sel darah didalam sumsum tulang sehingga salah satu efek sampingnya berupa penurunan kadar Hb (anemia), penurunan sel darah putih (leukopenia), dan keping darah (trombositopenia). Contoh obat golongan ini adalah Azathioprine dan Cyclosporine-A.
Karena penyakit ini adalah penyakit yang memerlukan pengobatan jangka panjang, pendidikan kesehatan menjadi penting sekali agar odapus dapat berpartisipasi aktif memantau sendiri pengobatannya. Contohnya kontrol ke dokter secara berkala, minum obat dengan teratur, dan dukungan psikososial, merupakan kunci sukses pengobatan.

Perlukah pengaturan diet?
Memang tidak ada keterkaitan langsung antara diet dan penyakit LUPUS. Namun seringkali dijumpai adanya ketidakseimbangan lemak dalam darah seperti kelebihan kolesterol atau trigliserida. Dianjurkan untuk mengurangi kelebihan berat badan, menghindari makanan berlemak tinggi, pengurangan konsumsi alkohol atau garam. Selain itu, perubahan gaya hidup ini diperlukan untuk menghindari adanya komplikasi hipertensi, dislipidemia, dan penyakit jantung.

Apakah odapus dapat hamil?
Pada dasarnya kesuburan odapus tidak terganggu. Akan tetapi apabila odapus hamil maka kekambuhan dapat terjadi dan tidak jarang mengalami keguguran dalam tiga bulan pertama atau lahir mati. Untuk itu sangat disarankan agar terlebih dahulu mencapai keadaan remisi atau kesembuhan. Jika odapus dideteksi juga mamiliki kelainan pada ginjalnya, ia baru boleh merencanakan kehamilan minimal
3 – 6 bulan sesudah mencapai keadaan remisi.

Apabila kehamilan diikuti dengan suksesnya kelahiran, tidak jarang akan terjadi kekambuhan paska persalinan. Untuk itu tetap diperlukan pengawasan ketat baik sebelum, selama, dan sesudah kehamilan. Selama penyakit belum mencapai remisi, maka kontrasepsi yang dianjurkan dipakai dalam merencanakan kehamilan adalah kondom, pembunuh sperma (spermisid) atau diafragma. Pil KB dengan dosis hormon rendah masih dapat diberikan dengan pengawasan. Sangat tidak dianjurkan untuk
memakai spiral.

Kemajuan dalam riset penyakit LUPUS
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengetahui apa dan bagaimana mengetahui perangai LUPUS dan
tentunya penanganan penyakit ini. Berbagai jenis obat telah digunakan untuk menekan proses imun di luar kontrol tubuh. Termasuk pula penelitian yang mencoba menguak keterlibatan mikroba, seperti virus dalam memicu proses keabnormalan respon tubuh odapus.

Kemajuan dunia kedokteran saat ini memberikan harapan bahwa orang yang menderita LUPUS (odapus) tidak lagi dihadapkan pada keadaan yang serius dan penyakit yang potensial fatal, tetapi mampu menjalani hidup dengan wajar dan berkualitas. Tidak seperti dulu, kini LUPUS bukan lagi penyakit mematikan. Kemajuan diagnostik dan obat-obatan membuat penderita LUPUS punya harapan hidup yang lebih besar. Sekitar 80–90% penderita LUPUS bertahan hidup lebih dari 10 tahun.

Waspadai gejala-gejala ini!
• nyeri sendi atau peradangan sendi di beberapa tempat
• ruam merah di sekitar pipi dan batang hidung membentuk gambaran seperti kupu-kupu
(ruam kupu-kupu)
• ruam di pipi yang menonjol atau bertukak
• kulit menjadi kemerahan ketika terkena sinar matahari
• sering sariawan
• kurang darah (anemia)

Bertanyalah pada dokter Anda; apakah gejala yang Anda derita merupakan penyakit LUPUS!

KENALI LUPUS
SEDINI MUNGKIN!
Kemana saya harus bertanya?
Informasi yang benar dan tepat untuk menjawab pertanyaan Anda dapat
ditujukan kepada:
Yayasan LUPUS Indonesia; Jalan Tanah Mas II/H 87 Rawamangun Jakarta Timur; Telp./Fax. 47868336; Email: yli-indo@link.net.id

Ikatan Reumatologi Indonesia (IRA); Jalan
Lele III No. 28 Rawamangun Jakarta Timur 13220; Telp.
330166;Fax.
336736; Email:
reumatik@indosat.net.id
Perhimpunan SLE Indonesia (PESLI); Sub.
Reumatologi, Bagian Ilmu Penyakit dalam FKUI/RSUPNCM;Jalan
Diponegoro 71 Jakarta Pusat 10430;Telp.
330166

Melalui mereka pula, Anda dapat mengetahui daftar laboratorium yang memberikan pemeriksaan dengan potongan harga dan daftar dokter pemerhati LUPUS yang memberikan potongan harga 20% pada biaya konsultasinya.

Kiat-kiat Pencegahan
1. mencegah terpaan sinar UV, misalnya dengan payung dan penggunaan sun block terutama pada kulit wajah
2. hindari kelelahan fisik yang terlalu berat/psikologis. Sebaiknya curi-curi waktu untuk istirahat dan melamaskan otot yang tegang
3. obat-obatan yang dianjurkan dokter harus diminum secara teratur
4. faktor genetika harus diperhatikan terutama jika diketahui bahwa salah satu diantara keluarga ada yang odapus
5. terapkan gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi sayur dan buah
6. sempatkan untuk berolah raga pagi minimal 30 menit setiap harinya untuk memampatkan sel tulang agar lebih sehat
7. jangan remehkan asupan vitamin D dan protein
8. perhatikan penyakit-penyakit pada saluran pencernaan

About Tips Gadget

Gadget, Smartphone, Android, Apple, Windows Phone, BlackBerry, Teknologi, dan Sosial Media View all posts by Tips Gadget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: